Rabu, 28 September 2011
RANCANGAN CINTA
suatu tempat, suatu masa
“Kamu jarang bicara ya, Ri. Kamu lebih suka diam mengamati dari balik kacamatamu itu,” komentar seseorang tiba-tiba padaku dan mengalihkan pandanganku dari sekelompok orang yang tampak begitu ramai dengan perbincangan yang tidak begitu jelas terdengar dari meja tempat kami duduk dan membuat keributan sendiri, aku menoleh pada rekanku yang memandangiku dari balik gelas minumnya sendiri.
Aku mengangkat sebelah alisku dengan tatapan bertanya –seingatku aku cukup banyak bicara. Bagus, rekan dan bossku mengawasiku dari gelasnya tertawa dan mengangkat gelasnya memberi salut padaku, “Kamu mengawasi mereka dengan tatapan penuh perhatian dan setia... kalo ada yang salah pengertian kamu bisa dituduh yang bukan-bukan.” Katanya yang membuatku mendengus kasar.
“Kebanyakan nonton film kriminal kamu,” balasku dari balik dengusanku sambil tatapan mataku kebali ke arah kelompok yang menarik perhatianku.
Bagus melingkarkan lengannya yang kekar ke pundakku dan leherku lalu mengisikan gelas minumku kembali penuh-penuh.
“Hei!” seruku dan menutup gelasku dengan telapak tangan dan menoleh pada Bagus dan mendapati wajahnya begitu dekat dengan wajahku.
“Minum, kita kan lagi ngrayain kemenangan desainmu yang terpilih sebagai desain untuk gedung baru U-Central... Dan mengingat desainer top kita seorang yang suka melamun dan punya hobi yang tidak jelas begini kadang membuat orang suka salah pengertian” katanya.
Aku memberikannya seringaianku yang terbaik dan menepiskan tangannya yang memegang botol minuman untuk menghentikannya menuangkan minuman untukku.
“Kerja sesungguhnya baru dimulai, jangan lupa carikan aku drafter baru segera! Pembangun untuk proyek yang di Tensity dan yang di Mutiara membuatku sakit kepala...” Aku melotot pada direktur dan juga teman lamaku sekaligus boss kantor desain dan arsitektur Good Radiance tempatku bekerja sebagai desainer dan arsitek.
Aku memandangi gelasku dan memperhatikan rombongan yang baru masuk ke tempat ini dan nyaris saja aku menumpahkan isi gelasku sebelum aku meletakkannya ke meja. Insinyur Sipil yang tidak punya cita rasa seni itu muncul dalam rombongan yang baru masuk itu. Bah... aku memaki dalam hatiku. Baru kemarin kami bertemu dan dia sudah menguras seluruh energiku dengan bersitegang soal pipa dan kamar-kamar spa lalu sebelumnya soal kabel dan penempatan lampu untuk efek pencahayaan. Sungguh insinyur sipil itu benar-benar kelewatan dan sama sekali tidak ada rasa artistik. Dasar Filistin!
Aku mendengus ke gelasku lalu bangkit dari dudukku sambil meraih gelasku, “aku ke teras luar... need for a smoke” kataku pada Bagus.
Aku menyandarkan badanku ke railing teras yang sempit sambil memandangi gedung-gedung pencakar langit yang menyala sehingga malam bagaikan lautan cahaya dan begitu penuh dengan kehidupan ditambah dengan cahaya yang berasal dari kendaraan bermotor di bawah sana cukup memuaskan kesenanganku akan cahaya; aku menikmati cahaya, minumanku dan sigaretku dengan tenang sampai aku merasa seseorang telah bergabung dengan kesendirianku di teras yang sempit ini.
Aku melirik orang yang baru bergabung denganku dengan ekor mataku lalu kembali menyandarkan badanku pada railing teras.
“Hati-hati, kau bisa meluncur ke bawah kalau railing itu patah... padahal kau baru saja memenangkan proyek untuk U-Central dan aku baru bersiap-siap untuk mengajukan penawaran tender untuk proyek itu. Jangan membuatku melakukan hal yang sia-sia kalau kau tidak ada di sini sebagai arsiteknya...” katanya mengagetkanku dan membuatku tersedak.
“WTF! You asshole!!!”
“Watch out there... you might fall!” serunya dan segera meraih pinggangku dalam usahanya menahan tubuhku. Aku mendelik padanya dan segera mendorongnya menjauh begitu aku tidak begitu kaget lagi.
“Who’s fault then? Kamu membuatku kaget dengan omonganmu yang ngawur itu.”
Dia tertawa, “Ah, my favorite architect is return!”
“Filistin!” aku mendengus cukup keras untuk bisa didengar yang bersangkutan dan meliriknya untuk mendapati dia menatapku dengan seringaian lebar dan membuatku menyeringai balik padanya.
Kami berdiri bersebelahan dan memandangi gedung-gedung pencakar langit di hadapan kami sambil sesekali menghembuskan asap rokok kami dan menyesap minuman yang sudah tidak begitu dingin lagi.
“Tidak masuk lagi ke dalam? Kamu baru datang kan?” tanyaku setelah berapa lama kami berdiam.
Evans melirik ke dalam dengan tampang bosan dan ogah-ogahan,”Nah... itu kerjaan bos baru, aku ngga ada urusan dengan acara malam ini, tapi dia memaksaku untuk ikut, hmmmmph... sampai jauh-jauh datang ke Tensity menjemputku; padahal besok aku ada kunjungan inspektur bangunan di site”.
Aku mengangguk, aku tahu besok ada inspeksi proyek dari pengawas dan besok akupun bermaksud untuk meninjau pembangunan rancanganku, tapi aku tidak berniat mengatakan niatku itu pada insinyur sipil ini karena mungkin saja rencanaku berubah besok. Mengatakannya pada Evans sama saja dengan memastikan rencana itu.
Aku mematikan puntung sigaretku dan menegak habis minumanku dan merapikan syal di sekeliling leherku lalu memberikan senyumanku pada Evans yang masih memberengut memperhatikan bossnya yang minum-minum dengan bebas dengan para tamunya. Aku merasa prihatin karena pastinya Evans yang harus mengurusi bossnya pulang ke rumahnya malam ini. Bukan bersenang-senang melepaskan stress pekerjaannya tetapi malah overtime yang tidak ada harganya. Hell... urusanku sendiri masih cukup banyak untuk memprihatinkan keadaan orang, apalagi orang semacam Evans ini.
“Well, then Evans... gotta go. Am beat and need crash badly tonite... see ya!” aku melambaikan tanganku dan meninggakan teras itu dan bergabung dengan rombongan kantorku. Aku bicara sebentar lalu menepuk-nepuk pundak Bagus dan meninggalkan restoran dan bar itu.
Aku mendelik marah pada telepon yang berdering-dering ribut dan mengganggu konsentrasiku di meja kerjaku dengan dahi berkerut; tidakkah sekretaris di depan itu tahu kalau aku paling benci mengangkat telepon bila sedang bekerja, baik itu di komputer ataupun meja gambar atau justru membuat props iseng-iseng. Telepon bagiku hanya pengalih perhatian yang tidak penting.
Pintu ruanganku terbuka dan Bagus melongokkan kepalanya ke dalam, “Evans menelpon dan minta kau segera ke lokasi Tensity, ASAP!”
“Aku sibuk, suruh Santos yang ke sana; dia mengikuti seluruh rancanganku dengan baik.” Aku menolak sambil membalikkan tubuhku kembali menghadapi layar komputerku.
“Can’t do... kamu yang harus ke sana; Pak Bintoro sedang ada di sana bersama Evans”
Damn! Pak Bintoro!
“Panggilin aku taksi, aku ngga bisa nyetir dengan kepala penuh sekarang ini... “ Kataku sambil membereskan barang-barangku; aku nyaris berlalri keluar dari ruanganku dan mendelik pada sekretaris kantor yang berdiri cemas di belakang mejanya dan berhenti di depannya, “Jangan pernah menyambungkan telepon ke ruanganku untuk apapun itu... Sambungkan semua telponku pada direkturmu tapi jangan sekali-kali padaku. GOT it?”
Dia mengangguk dengan bibir bergetar, aku mendengus, “Meh...”
...
Aku memandang bangunan yang mulai menunjukkan karakter desain yang kuat yang kurancang untuk Tensity. Kulihat Evans dan Pak Bintoro bercakap-cakap di tepi proyek dan aku memakai topi proyekku dan melangkah mendekati mereka.
Pak Bintoro melihatku duluan dan tersenyum, “Kamu selalu terlihat tampak baru keluar dari majalah mode; segar, rapi dan modis...” sambutnya sambil menghampiriku, “Maaf memanggilmu kemari mendadak sedangkan kamu pasti sedang sibuk-sibuknya”.
Evans mengangguk padaku sambil melambaikan tangannya,”Yo... Ari...”
“Wussup?” tanyaku padanya dan menyalami pak Bintoro
“Inspektur bangunan kemari tadi malam, saat kami semua sedang menjamu tamu boss... dan kau sedang bersama perusahaanmu...”
Aku memandangnya heran,” Malam? Aneh... apa yang bisa dilihat pada malam hari?” Lalu aku menoleh pada Pak Bintoro, “Dan bapak? Ada sesuatu yang penting dengan pembangunan Tensity?”
“Tidak, tetapi aku mau kamu juga bertanggung jawab atas keseluruhan interior dan lansekapnya seperti proyekmu di Orange Junction, begitu luar biasa... “
Aku melongo memandang Pak Bintoro, interior dan lansekap? Keseluruhan penampilan? Biasanya memang aku akan dimintai pedapat untuk penampilan keseluruhan, tetapi menentukan seluruh penampilannya? Lalu aku tersenyum lebar, “Ah, tentu saja; saya akan berusaha!”
Evans mengangguk puas,”Aku tahu dengan karakter desain begini, hanya arsiteknya yang tahu bagaimana memberikan sentuhan penyempurnaan.” Katanya dengan puas, “Walaupun soal kabel seperempat dan pipa aku masih tidak puas... terlalu berlebihan, kita bisa bicarakan itu lagi, Ri”
“No way... tidak ada satupun dari desainku yang berubah demi kabel ataupun pipa!”
Pak Bintoro tertawa dan menepuk nepuk pundak kami berdua, “Baiklah... aku harus pergi, Ibu sudah menunggu di mobil, nanti malam jangan lupa... kami tunggu di Cirque, Ari... temani aku ke mobil...”
“Kau tidak akan beralasan yang bukan-bukan untuk nanti malam, kan? Aku sudah berjanji dengan ibu bahwa kau akan hadir nanti malam.”
“Ya, saya akan datang... “
“Urusan kerja pasti kau begitu sigap dan mudah sekali diajak bicara, begitu masuk urusan keluarga kamu pasti langsung seperti keong”
Aku tertawa kecil mendengar gerutuan Pak Bintoro, “This and that are different issues,” Jawabku setengah serius, “Lagipula, saya bukan anggota keluarga resmi” jawabku dengan senyuman profesional nomor satu yang biasanya tidak pernah berhasil hanya terhadap Evans dan Bagus tapi berhasil pada orang-orang lainnya.
“Bukan anggota keluarga resmi? Aneh... terakhir aku masih melihat namamu dalam daftar keluarga Bintoro yang dibuat pengacara”
Aku menyeringai dalam hati tapi tetap menampilkan senyuman profesional nomor satuku, “Yah Bapak, ini dan itu kan dua hal yang berbeda...Tetapi pasti, nanti malam saya akan datang ke Cirque”
“Ibu mengeluh, kalau kamu sama sekali tidak bisa dihubungi”
Aku tertawa kecil, “Maaf... saya tidak suka telepon, semua komunikasi saya ditangani oleh Bagus atau kantor”
Pak Bintoro memandangiku lalu menggeleng-gelengkan kepalanya lalu dia memasuki mobilnya, “Ah... pastikan saja nanti malam kamu tidak absen, kita sudah lama tidak makan bersama”
Aku mengangguk dan sedikit membungkukkan badanku, “Salam buat ibu dan sampai nanti malam”
Evans berbincang dengan salah satu mandor lapangannya dengan serius dan aku menghampiri mereka sambil ikut memandangi kertas kerja yang dibentangkan oleh Evans.
“Problems?” tanyaku
“Nah... hanya masalah logistik di sana sini, suplayer yang ditunjuk boss mengacaukan jadwal dan kadang material yang dikirim tidak sesuai dengan PO atau malah jauh dibawah kualitas yang kita order” jawab Evans sambil mencoretkan beberapa hal pada lembar kertasnya sendiri.
“Belum lagi beberapa pencurian material dan banyak pekerja yang absen untuk mengerjakan proyek pribadi boss...” keluh mandor lapangan
Aku tidak berkomentar dan hanya memandangi Evans. Evans mengangguk, “Telpon balik orang suplayer ini dan bilang ada kesalahan pengiriman... Hell... sudah kesekian kalinya dalam proyek ini... Begitu juga dengan proyek kita di Mutiara... semuanya ngga ada yang beres”.
Seingatku boss Dwikara Konstruksi yang baru, Heru Argawa selalu tampil ekstravagan, mobil sport impor terbaru, mengadakan pesta-pesta mewah, entah itu istrinya yang bintang televisi atau anaknya yang baru sekian tahun dan bahkan untuk anjing pom-nya yang menyebalkan. Berbeda dengan pak Argawa tua yang sedehana.
“Sejujurnya... dua proyek ini akan menjadi proyek terakhirku dengan Dwikara; aku akan membuka konstruksiku sendiri” kata Evans sambil membuka kaleng minuman dingin dari cooler box besar di mobilnya dan menawarkannya padaku. Lalu mengambil satu lagi untuknya sendiri.
Aku meliriknya, “Good... sudah waktunya, walau aku ragu kamu bisa menangkan tender untuk rancangan desainku di masa yang akan datang...” balasku dengan seringaian lebar, “paling tidak sampai beberapa saat aku tenang dan tidak harus adu urat untuk soal kabel atau baja”
Evans menggetok kepalaku dengan pelan, “Smartass aren’t ya?” dengusnya jengkel dan aku terbahak mendengar nada gerutuannya.
“Ada apa soal pak Bintoro tadi? Kau tampak berbeda saat sendirian dengannya tadi?”
Aku meliriknya, “Bukan untuk konsumsi umum memang, tetapi ibuku menikah dengannya beberapa tahun lalu, hubungan kami di luar pekerjaan adalah hubungan keluarga”.
Evans memandangku dan dia menepuk-nepuk pundakku dengan pelan tapi tegas tanpa bicara apa-apa lagi.
“Aku sedikit tidak puas dengan mandor malam yang ditunjuk boss, tapi Heru terus mengatakan dia mempercayai orang itu, mungkin lebih baik memastikan orangku sendiri untuk mengawasinya diam-diam; segala pencurian dan salah PO itu sudah sangat mencurigakan”
Aku melirik Evans, “Apa rencanamu kalau kecurigaanmu terbukti?”
Evans menggaruk garuk kepalanya, “Ngga tau... jangan tanya apa yang akan kulakukan, karena aku ngga tahu apa yang harus kulakukan kalau semua itu terbukti, tetapi pada tingkat ini, aku benar-benar kasihan pada Bapak; usaha yang dirintisnya dari nol menjadi sia-sia akibat tindakan ceroboh Heru”.
Aku mengangguk dan mengerti... sangat mengerti dilema yang dihadapinya, tetapi kelakuan Heru sebagai penanggung jawab dan pemimpin sebuah perusahaan sangat tidak bertanggung jawab terutama terhadap para pekerjanya. Aku mengalihkan perhatianku pada laptopku dan pada hitungan dan desainku untuk Tensity; ada masalah dengan desain dan perhitungan teknisnya.
Suara dengungan AC ditambah dengan suara-suara mesin cor atau ketokan palu serta sesekali terdengar suara berat Evans memberikan pengarahan atau tertawa dengan para pekerjanya. Aku bisa membayangkan tubuhnya yang ramping berotot itu basah oleh keringat; sedikit membuatku merasa iri padanya, pada staminanya di tengah terik matahari dan kelembaban tinggi seperti ini pasti membuatku merasa layu.
Udara yang panas tidak menjadi lebih dingin oleh AC di dalam ruang bedeng yand dijadikan kantor ini membuatku ingin memejamkan mataku sejenak
“Sejenak saja...” janjiku pada diri sendiri
***
Aku tersentak kaget saat kurasakan tatapan yang memperhatikanku dan aku benar-benar terlonjak saat mengetahui bahwa Evanslah yang memperhatikanku dengan seksama, aku mendengus dan merapikan sedikit rambutku yang menutupi mata, “Kau membuatku kaget” aku menggerutu
Evans tersenyum, “Pak Bintoro memang benar...”
Aku menatapnya dengan pandangan bertanya
“Dalam keadaan apapun kamu seperti baru melangkah keluar dari majalah mode,” jelasnya dengan cengiran lebar yang membuat wajahnya tampak sedikit kekanak-kanakan.
“Aku hanya suka rapi,” sahutku
Evans mendekatiku dan mendekatkan wajahnya pada wajahku, kulihat lapisan keringatnya mengkilap dan iris matanya yang berwarna keemasan, terendus olehku aromanya yang bau dengan peluh dan matahari membuat jantungku berdetak lebih cepat
“Membuatku ingin mengacak-acakmu sedikit,” gumam Evans tanpa memperhatikan apa yang diucapkannya, aku mengangkat tanganku dan menahan wajahnya, walaupun aku tahu wajahku merona dan mustahil hal itu akan lolos dari pengamatan Evans; aku mengerutkan keningku dalam-dalam padanya.
Evans menghela nafasnya dan menjauh sedikit, “Suatu saat nanti, berhentilah melarikan diri dariku dan menyerah secara jantan”.
“Tidak mungkin” jawabku datar dan menepiskan tangannya yang menangkap tanganku. Evans mundur dan memberiku ruang dan membuka coolingbox berisi minuman dingin dan mengambil sebuah kaleng jus aku menggeleng saat dia menawarkan minuman padaku.
“Say, Ri... sudah berapa tahun kita saling mengenal?”
Aku menatapnya heran, “Tiga tahun? Sejak proyek Pinnacle Tower seingatku”
“Ya, itu resminya, terus terang aku mulai memperhatikanmu sejak Bagus dan kamu keluar dari Nou Riche; kupikir sepasang orang gila atau pemberani gila yang keluar dari rumah desain sekaliber Nou Riche dan membuat rumah desain sendiri; tetapi aku setuju kalian keluar dan membebaskan rancangan desainmu yang elegan, tentu saja kamu orang yang sulit diajak kompromi; namun hasilnya adalah kesempurnaan,”
Aku menatapnya dan Evans menoleh sambil mengangkat bahu dan memberiku senyuman lembut “Ya, aku sudah memperhatikanmu sejak itu, “ Evans tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya, “tentu saja banyak insiyur sipil memperhatikanmu terutama setelah kamu memenangkan penghargaan demi penghargaan untuk setiap rancangan dan desainmu; tetapi aku merasa bangga bahwa kamu berhasil memantapkan posisimu justru keluar dari Nou Riche”
“Kau membuatku merinding dengan obsesimu”
Evans terkekeh dan menenggak kaleng minumannya dengan suara ramai, “Begitu mengenalmu, bekerja sama denganmu menciptakan karya karya spektakuler, terus terang aku semakin memahami perasaanku yang menurutmu obsesif itu padamu...”
Aku mendekatinya, dan menjulurkan kedua tanganku menangkupkan wajahnya dan mendekatkan wajahku padanya, lalu mengecup bibirnya dengan suara sama ramainya saat dia menenggak minumannya,, aku tersenyum miring pada wajahnya yang terkejut memandangku, “Kau takkan pernah melihatku tampil acak-acakan...” kataku dan melepaskannya, “C’mon... kita pergi makan dengan ibu dan ayah tiriku”.
Aku memperhatikan Evans yang begitu santun memperhatikan celoteh ibuku sementara aku sendiri hanya sedikit bercakap cakap dengan Pak Bintoro terutama sekali mengenai proyek yang sedang kami kerjakan.
Tiba tiba ibuku mengalihkan perhatiannya padaku dan menatapku dengan tatapan bahagia dan aku memandangnya dengan mengangkat kedua belah alisku bertanya
“Ari... kamu memiliki teman yang sangat manis dan perhatian.. . ah aku lega akhirnya kamu memiliki teman yang memperhatikanmu benar-benar”
“Mam...” aku berusaha memotong kata-kata ibuku
“Selama ini aku khawatir; karena Bagus terlalu sibuk dengan urusan kantor dan memberikan proyek-proyek padamu tanpa memperhatikan keadaanmu atau memperhatikan kebutuhanmu... aku perlu bertemu Bagus lagi untuk menasihatinya agar tidak membebanimu dengan kerjaan!”
“Mam...” lagi lagi aku gagal menyela celoteh ibuku
Evans tersenyum padaku penuh kemenangan melihatku terpojok dan Pak Bintoro mengangguk-anggukkan kepalanya penuh persetujuan atas omongan ibuku, aku melotot marah pada si biang kerok yang malah mengangkat gelas minumnya.
OH CRAP!
Aku terbangun dengan perasaan jengkel oleh suara dering telepon yang menuntut perhatian, tetapi aku segera terduduk kaget saat sebuah tangan terjulur mengangkat telepon yang terletak di meja sisi tempatku tidur. Aku melirik pemilik tangan yang menjawab teleponnya denga suara berat dan kasar khas orang yang baru terbangun dari tidurnya, aku hendak bergelung lagi di balik selimutku sebelum kesadaran menghantamku seperti gelombang tsunami...wait wait wait...! kenapa aku dan pemilik tangan itu bisa ada pada satu ranjang?
“WTF! Kamu bicara apa? Tunggu di sana, aku akan segera pergi, jangan coba coba pergi sebelum aku datang...!” Evans setengah berteriak dan membanting telepon ke tempatnya, dia mengangkat alisnya melihatku sudah rapi kembali.
“Ada masalah di site? C’mon man... haul ass!” kataku sambil menyampirkan syal sutra dan membuka lemari es dan mengambil sebotol air mineral, “Aku akan hubungi resepsionis untuk menyiapkan taksi” . Evans mengangguk dan segera menuju kamar mandi sementara aku menghubungi resepsionis untuk menyiapkan taksi bagi kami berdua.
Kami menuju site proyek tanpa banyak bicara di dalam taksi dan bangunan yang belum jadi menjulang tinggi di tempatnya membuat kesan angker perlahan-lahan semakin jelas dan semakin menyeramkan, segala kegiatan fisik selama siang hari kini seolah-olah mati dan kami berada di setting masa depan, aku merasa bulu kudukku berdiri, ada sesuatu yang tidak pas di sini.
Evans berjalan mondar mandir dengan gelisah, dan saat itu bayangan seseorang mendekati kami berdiri, dia memandangku ragu-ragu dan dan menatapnya dengan tatapan tajam dan dingin, “Mulailah, kita ngga punya waktu semalaman di udara terbuka begini, shoot!” sentakku dengan kesal.
“Maaf, maafkan saya, Pak Evans... semua yang aku lakukan atas instruksi pak Heru, kami diminta menghubungi inspektur pada malam hari dan dia akan mengatur bagaimana bapak tidak ada di tempat saat inspeksi dijadwalkan, saya tadinya akan diam saja, tapi pak mandor begitu baik saat istriku kecelakaan kemarin, dan...dan... saya malu”.
Aku menyentuh lengan Evans yang tinjunya terkepal, dan segala kecurigaan yang selama ini menggantung di atmosfer terbukti, “Bagaimana dengan Mutiara? Sama juga?”
“Ti.. tidak pak! Mutiara masih belum dimulai, tetapi indikasinya pak Heru juga akan melakukan hal yang sama...”
Evans menghantamkan tinjunya ke tiang dengan sekuat tenaga, dan pegawai itu mengkeret di hadapan Evans dengan tubuh bergetar, tetapi tidak melarikan diri.
“Kau bersedia bersaksi atas segala kejahatan dan perbuatan yang dilakukan walaupun kamu sendiri akan terkena karena kamu terlibat langsung?”
“Saya bersedia, demi istri saya dan pak mandor,”dia mengangguk anggukkan kepalanya dengan semangat.
“Evans... apa yang akan kamu perbuat?” tanyaku setelah kami tinggal berdua dan aku menyalakan sigaretku dan menghembuskan asapnya ke udara malam, aku memandangi bayangan tinggi dan besar di hadapan kami dengan sesekali mengisap sigaretku dalam-dalam. Dan perasaan tidak enakku tidak mau hilang saat melihat bangunan setengah jadi ini.
Evans memandang gedung yang belum jadi menjulang tinggi di terpa cahaya lampu jalanan, dia menggelengkan kepalanya, “Begitu banyak material yang tidak sesuai dengan standar, begitu banyak tenaga dan pikiran yang terbuang percuma, demi onggokan tinggi seperti ini, Fucking asshole!”
Aku merapatkan syal sutraku dan bersidekap sambil memandang rancanganku yang setengah jadi, “Apa yang akan kamu lakukan?” aku megulangi pertanyaanku padanya
“Aku akan menemui si baka Heru; bagamanapun, aku masih menghormati Argawa tua dan perusahaan yang dibangun dari kecil tidak boleh hancur begitu saja gara gara ulah Heru yang tidak tahu diri itu”.
Aku melirik jamku, baru jam satu lewat tengah malam, aku rasa sang pembangun masih merayakan pesta atau baru selesai merayakan pesta entah apa lagi di rumahnya, “Let’s go”
Aku memandangi sosok menyedihkan Heru dengan memasang tampang tidak merasa tertarik dan bosan. Dia berkeluh kesah ini dan itu, sambil matanya melirik kanan dan kiri dan gerakan mulutnya yang lemah terkadang terlihat menegang yang membuatku menatap orang itu waspada karena perasaan tidak nyamanku kembali dengan kekuatan penuh.
Evans menangkupkan kedua tangannya dengan mata menatap Heru yang duduk dengan gelisah, “Apa yang kamu bilang? Melaporkanku ke polisi? Komisi anti korupsi? ...Evans...”
“Bukti-buktinya sudah kami miliki, tetapi demi Pak Argawa, aku memberimu kesempatan untuk mengakui seluruh perbuatanmu sendiri sampai besok pagi jam sebelas, cukup banyak waktu untuk memikirkannya, Ru...”
Mulut Heru terlihat menegang dan dia menutupi wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya, “Sonya mulai terkenal dan mulai dikenal di dunia televisi... dia...dia...”
“Aku tidak perlu mendengar semua alasanmu itu, kamu sudah mempertaruhkan nyawa orang-orang dengan tindakanmu ini, Pak Bintoro sudah kami kabari mengenai perbuatanmu ini, dan aku pikir kamu harus menyerahkan diri sendiri pada polisi, dan itu bisa meringankan hukumanmu...”
Heru mengangguk lemah, “Please... jangan laporkan dulu, aku... aku akan memikirkannya dan jangan bilang apa-apa pada Sonya...”
Evans mendengus, “As if!”
Kami meminta supir taksi kami untuk berkeliling dahulu; kami menyelusuri jalanan dengan dipenuhi pikiran sendiri-sendiri dan memandang keluar jendela sebelum kami kembali ke hotel tempat kami menginap selama di kota ini, aku melihat ke arah jam digital di dasbor taksi, sudah menunjukkan pukul tiga lewat, dan aku melihat semburat kemerahan mulai muncul di langit malam yang mulai sedikit terang.
“Kita kembali dulu ke site dulu...” kata Evans tiba-tiba memecah kebisuan di antara kami berdua, aku memandangnya dan mengangguk, bagaimanapun, Tensity adalah proyek kesayangannya.
Kami melangkah bersama menyusuri bangunan yang kini kesannya ditelantarkan, “Apa yang akan terjadi?”
“Dihancurkan setelah penyelidikan selesai, lalu terserah pada pak Bintoro apakah mau melanjutkan proyek ini atau tidak, tetapi pihak Dwikara tentu saja akan mengganti atau bekerja tanpa dibayar karena sirkus sialan ini!”
“Aku bisa membayangkan, betapa indah tempat ini nantinya, mengundang dengan kehangatan, menawarkan kenyamanan dan tempat yang menawarkan naungan untuk pencari ketenangan...”
Aku mengikutinya dan terdiam lama, “Kamu begitu menyukai rancangan Tensity ini dibanding Mutiara... atau rancanganku yang lainnya”
Evans berbalik dan mengambil sebelah tanganku yang digenggamnya erat-erat dan menarikku untuk berjalan lebih dalam lagi ke area bangunan itu, menuju kubah bangunan Spa yang setengah jadi, kami bergandengan tangan atau mungkin lebih tepatnya Evans menggandengku berjalan.
“Seharusnya tidak perlu pakai keystone rumit dan tidak perlu kubah begini, mahal dan sulit!”
“Itu kan pekerjaanmu dan tanggung jawabmu untuk membuatnya menjadi indah, you asshole!.. ngga usah pake alasan ini itu... “
Evans melirikku dengan senyuman yang membuat hatiku terasa pedih dan nyeri oleh senyuman itu dan aku mendekatinya, terdorong oleh keinginan dan tatapan matanya yang begitu sedih, dan aku menjulurkan tanganku yang bebas dan menyentuh pipinya yang mulai ditumbuhi oleh rambut-rambut halus.
“Kita akan membangunnya kembali, aku bisa meminta favor dari orang tua itu...”
“Aku paling menyukai rancangan yang ini, menonjolkan kesederhanaan di tengah-tengah kesulitan tinggi, sederhana tetapi tidak ada yang sederhana pada rancanganmu.” Dia menutupi tanganku yang menyentuh pipinya.
“Ari... “ Kata-katanya terputus dengan suara ledakan sekali di dalam bangunan dan disusul suara gemuruh dan getaran, dan kami terpaku di tempat.
Tiba-tiba dia bergerak cepat mendorongku keluar dan berlari menyeretku segera keluar dan aku mengikutinya dengan langkah tersaruk-saruk di belakangnya dan Evans menarikku kuat-kuat
“Cepat, cepat, dammit!”
Aku mendengar suara ledakan kedua lalu ledakan ketiga
dan aku.................................
.......
Selasa, 06 September 2011
The Lore of Mearcair - Kandemi Llan, Verdynn Cyfandir, Mearcair (lanjutan 3)
Saat itu, di Gran Salo, Tatiana cemas mengamati ketiga orang garda la porta yang telah cukup lama hilang dalam dunia khayali. Membuka tunela sebetulnya adalah perjalanan yang seolah khayali, bagai di alam mimpi, son lúcida*[1] menurut istilah Verdynn selatan. Peran penjaga gerbang adalah membuka pintu masuk dan keluar di tempat yang dituju. Saat membuka pintu keluar, para penjaga gerbang haruslah melakukan perjalanan astral, yaitu dimana badan mereka secara fisik berada di tempat keberangkatan namun spirit mereka berada di tempat tujuan. Hal ini guna memilih tempat tujuan yang tepat, utamanya untuk menghindari tempat yang berbahaya dan mustahil. Bila salah dilakukan bukan tidak mungkin caminant*[2], atau pelaku perjalanan,akan keluar di tengah kawah gunung berapi, atau di dalam dasar lautan misalnya.
Ketiga penjaga gerbang yang dipanggil Tatiana adalah para penjaga gerbang terbaik yang dimilikinya. Sepanjang ingatan Tatiana, biasanya mereka tidak memerlukan waktu selama ini untuk membuka tunela. Hal ini tak urung membuatnya cemas. Dilihatnya Enki yang biasa tenang juga sedikit menampakkan kegelisahan di raut mukanya.
Ketiga penjaga gerbang masihlah lenyap dalam dunia khayali ketika Alita dan timnya mencapai Gran Salo. Saat mereka berlima memasuki Gran Salo, mereka mendengar Tatiana di dalam pikiran mereka, meminta supaya mereka memasuki ruangan dengan tenang supaya tidak mengganggu para garda la porta. Merekapun paham dan berjalan mendekati para garda la porta tanpa bersuara sedikitpun. Tunggangan mereka telah berubah wujud bersatu dengan tuannya menjadi semacam tanda lahir di lengan mereka. Lync, tunggangan para caçador dapat berubah menyatu dengan tuannya dalam bentuk tanda lahir atau semacam tato, biasanya di tangan, lengan atau kaki.
Tiba-tiba Sergi tampak membuka mata, air mukanya keruh, dan nafasnya tersengal.
Ditatapnya Tatiana, dan menggunakan bahasa pikiran disampaikannya apa yang didapatnya kepada mereka semua di ruangan tersebut.
"Maaf ketua, oleh suatu sebab kami tidak bisa membuka jalur yang stabil ke Deau Paith, jaraknya memang jauh namun tidak seharusnya ini terjadi."
Mendengar ini, Alita dan rekan – rekannya saling berpandangan satu sama lain namun tidak mengucapkan sepatah katapun. Alma mulai merasa mual lagi melihat hal ini.
"Apakah kalian bertiga baik-baik saja?" sahut Tatiana cemas.
"Iya ketua, kami bertiga baik-baik saja, namun terus terang kami sudah mendekati ambang kemampuan kami. Kalau boleh kami mohon ijin supaya membuka jalur agak jauh dari Deau Paith, tepatnya di tepi danau Vista Alegre. Agak jauh dari tujuan namun hanya inilah tempat teraman dan terdekat yang kami temukan".
"Tidak mengapa Sergi, bukalah di sana", potong Enki cepat. "Kurasa itu lebih baik daripada tidak sama sekali". Tatiana hanya mengangguk tanda setuju, dilihatnya Alita dan rekan-rekannya yang telah bersiap di situ. Dia merasa cukup puas dengan anggota yang dipilih Alita dan juga kesiapan mereka yang terlihat dari wajah-wajahnya.
"Baik tetua, mohon bersiap bila demikian", jawab Sergi lagi, dan segera Sergi kembali menghilang dalam dunia mimpi.
Alita melihat kepada keempat rekannya memberikan kode untuk bersiap. Sejenak kemudian ketiga batu kristal para penjaga gerbang mulai berpendar semakin terang, dan di tengah-tengah antara ketiga penjaga gerbang mulai muncul semacam bayangan kabur seperti jendela ke dunia lain. Itulah pintu ke Pandea yang mulai terbuka. Dengan semakin membesarnya bayangan tersebut, perlahan-lahan para penjaga gerbang mulai membuka matanya, nampak di mata mereka bahwa energi mereka sangat terkuras dalam perjalanan kali ini.
Tatiana dan Enki tak sadar menghela nafas hampir bersamaan, merasa sedikit lega dengan keberhasilan pembukaan ini.
Setelah beberapa saat, Sergi berkata "Baiklah, silakan menyebrang".
Tatiana mengalihkan pandangannya kepada Alita dan rekan-rekannya sambil memberi tanda dengan sedikit anggukan sebagai tanda untuk mereka berangkat.
"Ketua, Ancians, kami berangkat" kata keempat rekan Alita. Alma yang pertama akan memasuki gerbang tersebut tak terasa menelan ludahnya untuk sedikit meredakan gejolak perutnya, namun tak urung dia melangkahkan kakinya ke dalam gerbang. Satu persatu di belakangnya Iordana, Derdriu, Neith, dan terakhir Alita memasuki jendela tersebut mengikutinya. Alita sebelum memasuki jendela hanya mengangguk singkat kepada Enki dan Tatiana.
"Lluna beserta kalian semua" kata Tatiana dan Enki. Belum usai ucapan mereka, tampak bayangan yang tadi tenang mulai bergelombang, dan tiba-tiba ada bayangan gelap di dalam jendela tersebut.
"Demi Lluna!" desis Tatiana dan Enki hampir bersamaan.
Jendela bayangan tadi tampak semakin kacau dan dengan tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka. Ketiga penjaga gerbang hanya berpandangan dengan cemas, peluh membasahi sekujur tubuh mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Tatiana cemas. "Sergi, apakah mereka baik-baik saja?" sergah Tatiana, mencemaskan kelima anggotanya.
Sergi dan rekan-rekannya hanya terdiam tidak mampu menjawab, mata mereka nanar menatap kosong ke bekas jendela tunela yang sudah menghilang tak berbekas.
Catatan:
1. Son lúcida = mimpi nyata
2. Caminant = traveller, pengembara.
Ketiga penjaga gerbang yang dipanggil Tatiana adalah para penjaga gerbang terbaik yang dimilikinya. Sepanjang ingatan Tatiana, biasanya mereka tidak memerlukan waktu selama ini untuk membuka tunela. Hal ini tak urung membuatnya cemas. Dilihatnya Enki yang biasa tenang juga sedikit menampakkan kegelisahan di raut mukanya.
Ketiga penjaga gerbang masihlah lenyap dalam dunia khayali ketika Alita dan timnya mencapai Gran Salo. Saat mereka berlima memasuki Gran Salo, mereka mendengar Tatiana di dalam pikiran mereka, meminta supaya mereka memasuki ruangan dengan tenang supaya tidak mengganggu para garda la porta. Merekapun paham dan berjalan mendekati para garda la porta tanpa bersuara sedikitpun. Tunggangan mereka telah berubah wujud bersatu dengan tuannya menjadi semacam tanda lahir di lengan mereka. Lync, tunggangan para caçador dapat berubah menyatu dengan tuannya dalam bentuk tanda lahir atau semacam tato, biasanya di tangan, lengan atau kaki.
Tiba-tiba Sergi tampak membuka mata, air mukanya keruh, dan nafasnya tersengal.
Ditatapnya Tatiana, dan menggunakan bahasa pikiran disampaikannya apa yang didapatnya kepada mereka semua di ruangan tersebut.
"Maaf ketua, oleh suatu sebab kami tidak bisa membuka jalur yang stabil ke Deau Paith, jaraknya memang jauh namun tidak seharusnya ini terjadi."
Mendengar ini, Alita dan rekan – rekannya saling berpandangan satu sama lain namun tidak mengucapkan sepatah katapun. Alma mulai merasa mual lagi melihat hal ini.
"Apakah kalian bertiga baik-baik saja?" sahut Tatiana cemas.
"Iya ketua, kami bertiga baik-baik saja, namun terus terang kami sudah mendekati ambang kemampuan kami. Kalau boleh kami mohon ijin supaya membuka jalur agak jauh dari Deau Paith, tepatnya di tepi danau Vista Alegre. Agak jauh dari tujuan namun hanya inilah tempat teraman dan terdekat yang kami temukan".
"Tidak mengapa Sergi, bukalah di sana", potong Enki cepat. "Kurasa itu lebih baik daripada tidak sama sekali". Tatiana hanya mengangguk tanda setuju, dilihatnya Alita dan rekan-rekannya yang telah bersiap di situ. Dia merasa cukup puas dengan anggota yang dipilih Alita dan juga kesiapan mereka yang terlihat dari wajah-wajahnya.
"Baik tetua, mohon bersiap bila demikian", jawab Sergi lagi, dan segera Sergi kembali menghilang dalam dunia mimpi.
Alita melihat kepada keempat rekannya memberikan kode untuk bersiap. Sejenak kemudian ketiga batu kristal para penjaga gerbang mulai berpendar semakin terang, dan di tengah-tengah antara ketiga penjaga gerbang mulai muncul semacam bayangan kabur seperti jendela ke dunia lain. Itulah pintu ke Pandea yang mulai terbuka. Dengan semakin membesarnya bayangan tersebut, perlahan-lahan para penjaga gerbang mulai membuka matanya, nampak di mata mereka bahwa energi mereka sangat terkuras dalam perjalanan kali ini.
Tatiana dan Enki tak sadar menghela nafas hampir bersamaan, merasa sedikit lega dengan keberhasilan pembukaan ini.
Setelah beberapa saat, Sergi berkata "Baiklah, silakan menyebrang".
Tatiana mengalihkan pandangannya kepada Alita dan rekan-rekannya sambil memberi tanda dengan sedikit anggukan sebagai tanda untuk mereka berangkat.
"Ketua, Ancians, kami berangkat" kata keempat rekan Alita. Alma yang pertama akan memasuki gerbang tersebut tak terasa menelan ludahnya untuk sedikit meredakan gejolak perutnya, namun tak urung dia melangkahkan kakinya ke dalam gerbang. Satu persatu di belakangnya Iordana, Derdriu, Neith, dan terakhir Alita memasuki jendela tersebut mengikutinya. Alita sebelum memasuki jendela hanya mengangguk singkat kepada Enki dan Tatiana.
"Lluna beserta kalian semua" kata Tatiana dan Enki. Belum usai ucapan mereka, tampak bayangan yang tadi tenang mulai bergelombang, dan tiba-tiba ada bayangan gelap di dalam jendela tersebut.
"Demi Lluna!" desis Tatiana dan Enki hampir bersamaan.
Jendela bayangan tadi tampak semakin kacau dan dengan tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka. Ketiga penjaga gerbang hanya berpandangan dengan cemas, peluh membasahi sekujur tubuh mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Tatiana cemas. "Sergi, apakah mereka baik-baik saja?" sergah Tatiana, mencemaskan kelima anggotanya.
Sergi dan rekan-rekannya hanya terdiam tidak mampu menjawab, mata mereka nanar menatap kosong ke bekas jendela tunela yang sudah menghilang tak berbekas.
Catatan:
1. Son lúcida = mimpi nyata
2. Caminant = traveller, pengembara.
Senin, 05 September 2011
The Lore of Mearcair - Kandemi Llan, Verdynn Cyfandir, Mearcair (lanjutan 2)
Di dalam, Tatiana juga menggunakan telepati untuk memanggil 3 orang garda la porta[1] atau penjaga gerbang, yaitu orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membuka tunela[2], atau terowongan khayali untuk melakukan perjalanan tembus ruang. Tidak seberapa lama kemudian ketiga orang tersebut telah hadir di ruangan tersebut.
"Ketua, kami hadir, apakah yang bisa kami lakukan?" kata Sergi, mewakili dua penjaga gerbang yang lain.
"Saudaraku, terimakasih telah hadir di sini, aku mohon bantuan untuk membuka tunela ke Deau Paith, Pandea." pinta Tatiana cepat.
"Baik ketua, biarlah kami memulai persiapan" sahut Sergi lagi lugas. Sudah menjadi tugas penjaga gerbang untuk membuka tunela kapanpun diminta oleh ketua atau para tetua. Dan melihat tetua Enki dan ketua Tatiana yang nampak serius, Sergi tidak ingin bertanya lebih lanjut selain segera mempersiapkan diri.
Masing-masing penjaga gerbang segera bergegas ke tengah ruangan dan segera mengambil posisi dalam bentuk segitiga di antara mereka. Setelah berada di posisi, mereka mengeluarkan sebentuk batu kristal bulat tidak lebih besar daripada telur ayam, masing-masing berpendar lembut dengan warna yang berbeda-beda. Ketiga penjaga gerbang tersebut saling berpandangan satu dengan yang lainnya untuk melihat kesiapan masing-masing, setelah dirasa siap mereka bertiga mulai mengucapkan mantra untuk memulai persiapan kemudian hening. Tidak tampak gerakan sedikitpun di antara ketiga penjaga gerbang tersebut.
Tatiana dan Enki duduk terdiam menunggu persiapan yang dilakukan. Mereka berdua tahu tahap pembukaan awal adalah yang tersulit maka mereka berdua tidak ingin mengganggu para penjaga gerbang yang sedang melakukan tugasnya. Saat itu hampir lewat tengah malam, adalah waktu yang kira-kira cukup tepat untuk melakukan pembukaan, apalagi mengingat perbedaan waktu antara Kandemi dan Deau Paith yang sekitar sepertiga hari. Biasanya perjalanan menggunakan tunela dilakukan saat malam hari, ada dua alasan untuk ini, yang pertama adalah entah kenapa pembukaan tunela lebih mudah dilakukan di malam hari. Dan alasan kedua cukup jelas, pembukaan di siang hari memiliki tingkat resiko yang cukup tinggi, tentunya akan membuat keributan bila tiba-tiba ada orang melihat serombongan orang lain muncul tiba-tiba di tengah siang bolong, apalagi dalam misi khusus seperti ini.
Sesampainya di rumahnya, Alita bergegas mengemasi perlengkapannya, diambilnya pisau kecil kesayangannya dan diselipkan ke buntalan pakaiannya. Pisau kecil ini tidak pernah digunakannya dalam pertarungan akan tetapi selalu dibawanya untuk keperluan ringkas seperti memasak atau menguliti hewan buruan. Tak lupa diisinya kembali gucinya yang telah kosong dari persediaan yang dimilikinya. Juga diselipkannya berkas catatan kecil dan seberkas mapa la màgia[3] andalannya setiap kali berburu atau dalam misi khusus. Dia tak kuatir dengan perbekalan lainnya karena sebagai seorang caçador dia bisa bertahan hidup berapa lamapun di alam bebas. Sejenak dia melihat beberapa baju pelindung yang dimilikinya, namun saat ini dia tidak hendak menggunakan baju perang, baju misi yang selalu dikenakannya dirasanya lebih cocok untuk misi – misi semacam ini. Baju misi yang umum digunakan unit venta sekilas nampak seperti baju biasa, namun terbuat dari semacam tenunan khusus yang ringan namun sangat kuat, tebasan pedang biasa tidak akan mampu memotong baju ini. Anggota elemen venta, tak terkecuali Alita, selalu memakai baju misi bahkan dalam keseharian guna mengantisipasi panggilan untuk misi – misi khusus seperti kali ini. Alita memeriksa kembali baju dan ikatan pelindung lengan dan kakinya. Setelah merasa puas dengan persiapannya, Alita bergegas dia kembali keluar, dan dilihatnya rekannya telah berkumpul.
Iordana, teman dan rekan kepercayaannya, memiliki julukan Gwalchllygad atau mata elang. Di samping sebagai rekan kepercayaan, kemampuan pertarungan jarak jauhnya sering dikatakan yang terbaik di seantero Verdynn, meskipun menurut Alita ini hanyalah cerita yang banyak dilebih-lebihkan para pencerita di kalangan suku Irite, namun bagaimanapun dia mengakui kemampuan Iordana sekaligus memerlukannya sebagai ahli pertarungan jarak jauh.
Neith, dalam unit Alita, Neith memiliki peran sebagai pendukung, yang memiliki kemampuan penyembuh melalui ramuan dan pengetahuannya yang luas akan tetumbuhan, ditambah dengan kecerdasannya dalam memilih strategi menjadikan Neith sebagai salah satu tim inti Alita.
Alma, memiliki kemampuan yang juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Alma dengan kemampuan khususnya yang mampu untuk mendeteksi musuh dalam jarak jauh dan juga kemampuan untuk membaca medan. Alma sendiri adalah petarung jarak dekat seperti Alita, menggunakan pedang seperti Alita.
Terakhir Derdriu, seperti Neith, adalah juga sebagai pendukung dalam tim, memiliki kemampuan magis, sering disebut juga encís les rodes atau pengucap mantra, meskipun suku Irite sendiri tidak terkenal dengan kemampuan màgia-nya akan tetapi Derdriu memiliki kemampuan yang sangat diperlukan di dalam unit Alita.
"Yoo, Alita. Misi lagi?" sapa Alma riang. Alma ini suka sekali menggunakan 'yoo' dalam kalimatnya, terutama bila bertemu teman atau orang lain. Arti dari kata itu sendiri tiada yang tahu selain hanya sebagai pelengkap ucapan Alma.
"Ya Alma, kali ini cukup jauh, perintah Enki dan ketua" jawab Alita lugas.
"Alita, bisa kau ceritakan lebih detail? Dan kenapa hanya berlima. Engkau tidak menyertakan Alexandra, Amelia, atau yang lainnya. Bila ini misi berbahaya kemampuan mereka bakal sangat membantu." ungkap Neith, seperti biasa Neith terkenal suka berhati-hati.
"Cukuplah saat ini kukatakan bahwa kita diminta untuk mencari seseorang, di Deau Paith, Pandea. Karena ini misi pencarian dan juga membutuhkan kecepatan aku rasa terlalu banyak orang hanya akan menghambat. Namun Tatiana juga berpesan untuk berjaga-jaga, untuk itulah aku meminta kalian. Kuharap tidak ada yang keberatan" jawab Alita. "Lagipula biarlah mereka menemani Mireira, aku sudah tinggalkan pesan juga untuk Mireira" lanjutnya lagi. Mireira adalah wakil ketua, atau wakil Alita, di dalam elemen venta.
Keempat rekannya hanya mengangguk, mereka terbiasa dengan misi seperti ini, oleh karena itu mereka tidak berkeberatan, meskipun kali ini sangat jauh, dan dari mereka berlima hanya Alma yang pernah bepergian ke Pandea. Neith merasa pilihan Alita sudah tepat, seperti bisa diharapkan dari seorang pemimpin elemen pikirnya.
"Baiklah kita berangkat, ketua menunggu kita. Saat ini tunela sedang dipersiapkan" lanjut Alita.
Mendengar ini Alma merasa mual, pengalamannya bepergian menggunakan tunela tidaklah menyenangkan, lebih baik mabuk vi atau berlayar dalam badai, pikirnya. Namun tentu saja pikirannya ini tidak dikeluarkannya ataupun ditampakkannya dalam air mukanya. Segera mereka berlima menaiki tunggangan masing-masing dan bergegas menuju Gran Salo dimana Tatiana dan yang lain telah menunggu mereka.
Catatan:
1. Garda la porta = secara harfiah berarti penjaga gerbang
2. Tunela = terowongan
3. Mapa la màgia = peta ajaib
"Ketua, kami hadir, apakah yang bisa kami lakukan?" kata Sergi, mewakili dua penjaga gerbang yang lain.
"Saudaraku, terimakasih telah hadir di sini, aku mohon bantuan untuk membuka tunela ke Deau Paith, Pandea." pinta Tatiana cepat.
"Baik ketua, biarlah kami memulai persiapan" sahut Sergi lagi lugas. Sudah menjadi tugas penjaga gerbang untuk membuka tunela kapanpun diminta oleh ketua atau para tetua. Dan melihat tetua Enki dan ketua Tatiana yang nampak serius, Sergi tidak ingin bertanya lebih lanjut selain segera mempersiapkan diri.
Masing-masing penjaga gerbang segera bergegas ke tengah ruangan dan segera mengambil posisi dalam bentuk segitiga di antara mereka. Setelah berada di posisi, mereka mengeluarkan sebentuk batu kristal bulat tidak lebih besar daripada telur ayam, masing-masing berpendar lembut dengan warna yang berbeda-beda. Ketiga penjaga gerbang tersebut saling berpandangan satu dengan yang lainnya untuk melihat kesiapan masing-masing, setelah dirasa siap mereka bertiga mulai mengucapkan mantra untuk memulai persiapan kemudian hening. Tidak tampak gerakan sedikitpun di antara ketiga penjaga gerbang tersebut.
Tatiana dan Enki duduk terdiam menunggu persiapan yang dilakukan. Mereka berdua tahu tahap pembukaan awal adalah yang tersulit maka mereka berdua tidak ingin mengganggu para penjaga gerbang yang sedang melakukan tugasnya. Saat itu hampir lewat tengah malam, adalah waktu yang kira-kira cukup tepat untuk melakukan pembukaan, apalagi mengingat perbedaan waktu antara Kandemi dan Deau Paith yang sekitar sepertiga hari. Biasanya perjalanan menggunakan tunela dilakukan saat malam hari, ada dua alasan untuk ini, yang pertama adalah entah kenapa pembukaan tunela lebih mudah dilakukan di malam hari. Dan alasan kedua cukup jelas, pembukaan di siang hari memiliki tingkat resiko yang cukup tinggi, tentunya akan membuat keributan bila tiba-tiba ada orang melihat serombongan orang lain muncul tiba-tiba di tengah siang bolong, apalagi dalam misi khusus seperti ini.
Sesampainya di rumahnya, Alita bergegas mengemasi perlengkapannya, diambilnya pisau kecil kesayangannya dan diselipkan ke buntalan pakaiannya. Pisau kecil ini tidak pernah digunakannya dalam pertarungan akan tetapi selalu dibawanya untuk keperluan ringkas seperti memasak atau menguliti hewan buruan. Tak lupa diisinya kembali gucinya yang telah kosong dari persediaan yang dimilikinya. Juga diselipkannya berkas catatan kecil dan seberkas mapa la màgia[3] andalannya setiap kali berburu atau dalam misi khusus. Dia tak kuatir dengan perbekalan lainnya karena sebagai seorang caçador dia bisa bertahan hidup berapa lamapun di alam bebas. Sejenak dia melihat beberapa baju pelindung yang dimilikinya, namun saat ini dia tidak hendak menggunakan baju perang, baju misi yang selalu dikenakannya dirasanya lebih cocok untuk misi – misi semacam ini. Baju misi yang umum digunakan unit venta sekilas nampak seperti baju biasa, namun terbuat dari semacam tenunan khusus yang ringan namun sangat kuat, tebasan pedang biasa tidak akan mampu memotong baju ini. Anggota elemen venta, tak terkecuali Alita, selalu memakai baju misi bahkan dalam keseharian guna mengantisipasi panggilan untuk misi – misi khusus seperti kali ini. Alita memeriksa kembali baju dan ikatan pelindung lengan dan kakinya. Setelah merasa puas dengan persiapannya, Alita bergegas dia kembali keluar, dan dilihatnya rekannya telah berkumpul.
Iordana, teman dan rekan kepercayaannya, memiliki julukan Gwalchllygad atau mata elang. Di samping sebagai rekan kepercayaan, kemampuan pertarungan jarak jauhnya sering dikatakan yang terbaik di seantero Verdynn, meskipun menurut Alita ini hanyalah cerita yang banyak dilebih-lebihkan para pencerita di kalangan suku Irite, namun bagaimanapun dia mengakui kemampuan Iordana sekaligus memerlukannya sebagai ahli pertarungan jarak jauh.
Neith, dalam unit Alita, Neith memiliki peran sebagai pendukung, yang memiliki kemampuan penyembuh melalui ramuan dan pengetahuannya yang luas akan tetumbuhan, ditambah dengan kecerdasannya dalam memilih strategi menjadikan Neith sebagai salah satu tim inti Alita.
Alma, memiliki kemampuan yang juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Alma dengan kemampuan khususnya yang mampu untuk mendeteksi musuh dalam jarak jauh dan juga kemampuan untuk membaca medan. Alma sendiri adalah petarung jarak dekat seperti Alita, menggunakan pedang seperti Alita.
Terakhir Derdriu, seperti Neith, adalah juga sebagai pendukung dalam tim, memiliki kemampuan magis, sering disebut juga encís les rodes atau pengucap mantra, meskipun suku Irite sendiri tidak terkenal dengan kemampuan màgia-nya akan tetapi Derdriu memiliki kemampuan yang sangat diperlukan di dalam unit Alita.
"Yoo, Alita. Misi lagi?" sapa Alma riang. Alma ini suka sekali menggunakan 'yoo' dalam kalimatnya, terutama bila bertemu teman atau orang lain. Arti dari kata itu sendiri tiada yang tahu selain hanya sebagai pelengkap ucapan Alma.
"Ya Alma, kali ini cukup jauh, perintah Enki dan ketua" jawab Alita lugas.
"Alita, bisa kau ceritakan lebih detail? Dan kenapa hanya berlima. Engkau tidak menyertakan Alexandra, Amelia, atau yang lainnya. Bila ini misi berbahaya kemampuan mereka bakal sangat membantu." ungkap Neith, seperti biasa Neith terkenal suka berhati-hati.
"Cukuplah saat ini kukatakan bahwa kita diminta untuk mencari seseorang, di Deau Paith, Pandea. Karena ini misi pencarian dan juga membutuhkan kecepatan aku rasa terlalu banyak orang hanya akan menghambat. Namun Tatiana juga berpesan untuk berjaga-jaga, untuk itulah aku meminta kalian. Kuharap tidak ada yang keberatan" jawab Alita. "Lagipula biarlah mereka menemani Mireira, aku sudah tinggalkan pesan juga untuk Mireira" lanjutnya lagi. Mireira adalah wakil ketua, atau wakil Alita, di dalam elemen venta.
Keempat rekannya hanya mengangguk, mereka terbiasa dengan misi seperti ini, oleh karena itu mereka tidak berkeberatan, meskipun kali ini sangat jauh, dan dari mereka berlima hanya Alma yang pernah bepergian ke Pandea. Neith merasa pilihan Alita sudah tepat, seperti bisa diharapkan dari seorang pemimpin elemen pikirnya.
"Baiklah kita berangkat, ketua menunggu kita. Saat ini tunela sedang dipersiapkan" lanjut Alita.
Mendengar ini Alma merasa mual, pengalamannya bepergian menggunakan tunela tidaklah menyenangkan, lebih baik mabuk vi atau berlayar dalam badai, pikirnya. Namun tentu saja pikirannya ini tidak dikeluarkannya ataupun ditampakkannya dalam air mukanya. Segera mereka berlima menaiki tunggangan masing-masing dan bergegas menuju Gran Salo dimana Tatiana dan yang lain telah menunggu mereka.
Catatan:
1. Garda la porta = secara harfiah berarti penjaga gerbang
2. Tunela = terowongan
3. Mapa la màgia = peta ajaib
The Lore of Mearcair - Kandemi Llan, Verdynn Cyfandir, Mearcair (lanjutan)
"Natura mitjà? Aku kira dia hanya ada dalam legenda saja" potong Alita. "Lalu bagaimana aku harus mencarinya?" lanjut Alita lagi.
"Demikian juga aku, hingga beberapa waktu yang lalu aku tidak pernah berpikir bahwa masih ada seorang natura mitjà di dunia ini, hingga aku mendapatkan penglihatan mengenainya, dan sejujurnya hingga sekarangpun aku belum sepenuhnya mempercayainya." Sejenak Enki terdiam, kemudian lanjutnya lagi "Seperti apakah dia dan dimanakah lokasi tepatnya aku sendiri tidak begitu jelas selain bahwa dia adalah seorang wanita, masih remaja, dan kira-kira dia berada di Deau Paith. Deau Paith bukanlah wilayah yang kecil, namun kau dapat menggunakan batu ini untuk mencarinya, pedra de cor pur[1]" Dari kantongnya dikeluarkannya sebuah bola kristal kecil, tidak lebih besar dari segenggaman tangan, abu-abu gelap dan transparan, dan diberikannya kepada Alita.
Alita terdiam sejenak, bila memang aku bertemu dengan seorang natura mitja ini akan menjadi pengalaman yang luar biasa pikirnya.
"Lalu, bagaimana menggunakan batu ini?" tanya Alita kemudian.
"Saat kau mendekati sang natura mitjà batu ini akan berpendar kehijauan, semakin kau mendekatinya batu ini akan bersinar semakin terang. Saat ini aku tidak punya petunjuk lain."air muka Enki tampak berubah sedikit keruh. "Hanya saja bila penglihatan yang aku lihat benar, maka dia akan sangat berarti." Enki menatap kosong kepada peta di hadapannya sambil menghela nafas. Tatiana dan Alita tidak mengucapkan sepatah katapun hanya menatap kepadanya sambil menunggu kalimat selanjutnya.
"Tidak ada waktu untuk ragu-ragu, Alita kau harus menemukannya" lanjut Enki sambil menatap lekat mata Alita.
"Ya Enki, aku akan menemukannya" sahut Alita, meskipun dalam batinnya dia tidak yakin dengan apa yang diucapkannya sendiri, namun dia tidak ingin terlihat ragu di hadapan tetua dan ketuanya.
Tatiana membaca keraguan Alita, katanya "Jangan ragu Alita, Lluna[2] bersamamu. Namun jalan kesana nanti mungkin tidaklah mudah, kumpulkanlah orang-orang sebagaimana keperluanmu. Dan kembalilah kemari secepatnya, aku akan memulai persiapan membuka tunela untuk membawamu ke sana."
"Baik ketua, Enki" jawab Alita seraya mengangguk hormat. Segera dia bergegas keluar menuju Kazt yang menunggunya sambil berbaring.Dipegangnya kepala Kazt sambil menggumamkan sesuatu, dengan menggunakan bahasa pikiran, atau telepati, dia memanggil beberapa teman sekaligus anak buahnya yang dia percaya untuk berkumpul di depan tempat tinggalnya. Segera setelah selesai memanggil, Alita memacu Kazt menuju tempat tinggalnya. Terlepas sifat kesehariannya yang sembrono, Alita adalah salah satu dari 5 kepala elemen utama penjaga suku Irite, yaitu agua, foca, terra, venta dan metalla[3]. Alita sesuai dengan julukannya adalah kepala elemen venta, yang juga merupakan unit khusus untuk misi-misi khusus.
Catatan:
1. Pedra de cor pur = arti harfiahnya adalah batu hati yang bersih
2. Lluna = bulan. Seperti kebanyakan bangsa lain di dunia Mearcair, suku Irite adalah pemuja bulan.
3. Agua, foca, terra, venta dan metalla = berturut-turut adalah air, api, tanah, angin, dan logam
"Demikian juga aku, hingga beberapa waktu yang lalu aku tidak pernah berpikir bahwa masih ada seorang natura mitjà di dunia ini, hingga aku mendapatkan penglihatan mengenainya, dan sejujurnya hingga sekarangpun aku belum sepenuhnya mempercayainya." Sejenak Enki terdiam, kemudian lanjutnya lagi "Seperti apakah dia dan dimanakah lokasi tepatnya aku sendiri tidak begitu jelas selain bahwa dia adalah seorang wanita, masih remaja, dan kira-kira dia berada di Deau Paith. Deau Paith bukanlah wilayah yang kecil, namun kau dapat menggunakan batu ini untuk mencarinya, pedra de cor pur[1]" Dari kantongnya dikeluarkannya sebuah bola kristal kecil, tidak lebih besar dari segenggaman tangan, abu-abu gelap dan transparan, dan diberikannya kepada Alita.
Alita terdiam sejenak, bila memang aku bertemu dengan seorang natura mitja ini akan menjadi pengalaman yang luar biasa pikirnya.
"Lalu, bagaimana menggunakan batu ini?" tanya Alita kemudian.
"Saat kau mendekati sang natura mitjà batu ini akan berpendar kehijauan, semakin kau mendekatinya batu ini akan bersinar semakin terang. Saat ini aku tidak punya petunjuk lain."air muka Enki tampak berubah sedikit keruh. "Hanya saja bila penglihatan yang aku lihat benar, maka dia akan sangat berarti." Enki menatap kosong kepada peta di hadapannya sambil menghela nafas. Tatiana dan Alita tidak mengucapkan sepatah katapun hanya menatap kepadanya sambil menunggu kalimat selanjutnya.
"Tidak ada waktu untuk ragu-ragu, Alita kau harus menemukannya" lanjut Enki sambil menatap lekat mata Alita.
"Ya Enki, aku akan menemukannya" sahut Alita, meskipun dalam batinnya dia tidak yakin dengan apa yang diucapkannya sendiri, namun dia tidak ingin terlihat ragu di hadapan tetua dan ketuanya.
Tatiana membaca keraguan Alita, katanya "Jangan ragu Alita, Lluna[2] bersamamu. Namun jalan kesana nanti mungkin tidaklah mudah, kumpulkanlah orang-orang sebagaimana keperluanmu. Dan kembalilah kemari secepatnya, aku akan memulai persiapan membuka tunela untuk membawamu ke sana."
"Baik ketua, Enki" jawab Alita seraya mengangguk hormat. Segera dia bergegas keluar menuju Kazt yang menunggunya sambil berbaring.Dipegangnya kepala Kazt sambil menggumamkan sesuatu, dengan menggunakan bahasa pikiran, atau telepati, dia memanggil beberapa teman sekaligus anak buahnya yang dia percaya untuk berkumpul di depan tempat tinggalnya. Segera setelah selesai memanggil, Alita memacu Kazt menuju tempat tinggalnya. Terlepas sifat kesehariannya yang sembrono, Alita adalah salah satu dari 5 kepala elemen utama penjaga suku Irite, yaitu agua, foca, terra, venta dan metalla[3]. Alita sesuai dengan julukannya adalah kepala elemen venta, yang juga merupakan unit khusus untuk misi-misi khusus.
Catatan:
1. Pedra de cor pur = arti harfiahnya adalah batu hati yang bersih
2. Lluna = bulan. Seperti kebanyakan bangsa lain di dunia Mearcair, suku Irite adalah pemuja bulan.
3. Agua, foca, terra, venta dan metalla = berturut-turut adalah air, api, tanah, angin, dan logam
The Lore of Mearcair - Kandemi Llan, Verdynn Cyfandir, Mearcair [1]
Saat yang sama
Kandemi, sebuah desa yang cukup besar di tepi hutan besar, Gran Bosc dalam dialek Verdyn selatan, tampak tenang sore hari itu. Di luar desa, di dekat hutan, tampak seekor lync[2] yang gagah berwarna ungu kehitaman berbaring dengan tenang menikmati istirahatnya. Lync di Kandemi adalah tunggangan para caçador[3], para pemburu, yang juga merupakan pasukan elit penjaga Kandemi dan juga desa-desa lain dalam kelompok suku Irite.
Tuannya tampak tidak jauh di dekatnya juga sedang berbaring sambil mengamati senjatanya, repero, el full del caçadors[4], sejenis pedang khusus para caçador, sesekali ditenggaknya vi kesayangannya langsung dari gucinya yang tergeletak di sampingnya. Tuannya ini memang suka sekali meminum vi, semacam tuak yang harum dan memabukkan. Sifatnya yang suka peminum ini cukup kontras dengan nama dan julukannya, Alita Sibrwdawel, atau Alita bisikan angin. Julukannya ini sebenarnya lebih ditujukan kepada kecepatannya dan juga kehalusannya dalam berburu atau bertarung daripada sifat kesehariannya yang sembrono, bandel dan pemabuk.
Tiba-tiba Alita menegakkan tubuhnya, dan tak seberapa lama kemudian sambil menggerutu dia berdiri dan berjalan ke arah tunggangannya dengan tak lupa membawa guci kesayangannya.
"Kazt!", panggil Alita kepada tunggangannya.
Kazt, lync tunggangannya segera menegakkan tubuhnya sambil memandang tuannya dengan matanya yang penuh tanya.
"Ya Kazt, sepertinya keinginanmu untuk berjalan-jalan terpenuhi. Enki memanggil, kalau pak tua itu memanggil biasanya selalu ada tugas untuk kita."
Mata Kazt tampak berbinar mendengar ini, Alita hanya tersenyum melihatnya, dasar kucing pikirnya. Segera dia naik ke punggung Kazt, yang kemudian dengan sigap berlari ke arah pusat desa Kandemi menuju ke tempat Enki. Hiasan berupa kalung bermata bulan sabit di leher Alita tampak berpendar kebiruan di tengah malam.
Catatan:
1. Gran Salo = sebuah rumah besar atau balai, sebutan suku Irite untuk bangunan utama tempat pertemuan dan tempat tetua / pemimpin suku berkumpul
2. Jove = muda
3. Ancians = sebutan hormat untuk tetua dalam dialek Irite & Verdynn selatan
4. Natura mitjà = sebutan untuk seorang yang memiliki kekuatan untuk berhubungan dengan alam dalam legenda suku Irite, disebutkan dalam legenda bahwa orang ini mampu mendengarkan suara alam dan tergantung kekuatan dan kondisinya mampu mengendalikan kekuatan alam.
Kandemi, sebuah desa yang cukup besar di tepi hutan besar, Gran Bosc dalam dialek Verdyn selatan, tampak tenang sore hari itu. Di luar desa, di dekat hutan, tampak seekor lync[2] yang gagah berwarna ungu kehitaman berbaring dengan tenang menikmati istirahatnya. Lync di Kandemi adalah tunggangan para caçador[3], para pemburu, yang juga merupakan pasukan elit penjaga Kandemi dan juga desa-desa lain dalam kelompok suku Irite.
Tuannya tampak tidak jauh di dekatnya juga sedang berbaring sambil mengamati senjatanya, repero, el full del caçadors[4], sejenis pedang khusus para caçador, sesekali ditenggaknya vi kesayangannya langsung dari gucinya yang tergeletak di sampingnya. Tuannya ini memang suka sekali meminum vi, semacam tuak yang harum dan memabukkan. Sifatnya yang suka peminum ini cukup kontras dengan nama dan julukannya, Alita Sibrwdawel, atau Alita bisikan angin. Julukannya ini sebenarnya lebih ditujukan kepada kecepatannya dan juga kehalusannya dalam berburu atau bertarung daripada sifat kesehariannya yang sembrono, bandel dan pemabuk.
Tiba-tiba Alita menegakkan tubuhnya, dan tak seberapa lama kemudian sambil menggerutu dia berdiri dan berjalan ke arah tunggangannya dengan tak lupa membawa guci kesayangannya.
"Kazt!", panggil Alita kepada tunggangannya.
Kazt, lync tunggangannya segera menegakkan tubuhnya sambil memandang tuannya dengan matanya yang penuh tanya.
"Ya Kazt, sepertinya keinginanmu untuk berjalan-jalan terpenuhi. Enki memanggil, kalau pak tua itu memanggil biasanya selalu ada tugas untuk kita."
Mata Kazt tampak berbinar mendengar ini, Alita hanya tersenyum melihatnya, dasar kucing pikirnya. Segera dia naik ke punggung Kazt, yang kemudian dengan sigap berlari ke arah pusat desa Kandemi menuju ke tempat Enki. Hiasan berupa kalung bermata bulan sabit di leher Alita tampak berpendar kebiruan di tengah malam.
Catatan:
1. Gran Salo = sebuah rumah besar atau balai, sebutan suku Irite untuk bangunan utama tempat pertemuan dan tempat tetua / pemimpin suku berkumpul
2. Jove = muda
3. Ancians = sebutan hormat untuk tetua dalam dialek Irite & Verdynn selatan
4. Natura mitjà = sebutan untuk seorang yang memiliki kekuatan untuk berhubungan dengan alam dalam legenda suku Irite, disebutkan dalam legenda bahwa orang ini mampu mendengarkan suara alam dan tergantung kekuatan dan kondisinya mampu mengendalikan kekuatan alam.
Jumat, 22 Juli 2011
The Lore of Mearcair - Deau Paith, Pandea Cyfandir, Mearcair
Saat yang sama
Angin semilir berhembus, sinar lembut seren fam menerangi pagi yang cerah tersebut. "Matres*[2] pasti sedang tersenyum pagi ini" pikir Fea. Didengarnya kicau burung dan bebunyian serangga menambah semarak pagi itu. Fea tenggelam dalam suasana tersebut, tanpa sadar ada bayangan gelap di tanah di dekatnya, mula-mula kecil namun semakin membesar, Fea mulai menyadarinya, namun sebelum sempat dirinya berpikir, ia terkejut mendengar lengkingan keras di atasnya. Sontak dia menoleh ke atas, dan diapun terpaku dalam kekagetannya ketika dilihatnya makhluk luar biasa di atasnya. Belum pernah dilihatnya makhluk tersebut, ia berbadan teigr*[3] namun bersayap besar dan anggun bagai gawain*[4] atau griffin*[5].
Belum hilang keterkejutannya, makhluk tersebut mendarat di depannya, dan dilihatnya seseorang melompat turun dari atas punggung makhluk tersebut. Sosok yang anggun namun memancarkan kharisma yang besar.
"Fea" didengarnya sosok tersebut memanggil namanya. Tak mampu menjawab, Fea hanya menatap kepada sosok tersebut yang berjalan mendekatinya.
"Fea, dengar, saat ini Gaia*[6], Mearcair, dunia ini membutuhkanmu, pergilah ke ... " belum selesai kalimat tersebut diucapkan tiba-tiba petir menggelegar dan langit menjadi gelap.
"Arrgh, tidak!!!" teriak sosok tersebut. Di belakang sosok tersebut tiba-tiba muncul seberkas sinar merah menyala, dan muncul sosok lain. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, sosok tersebut mengacungkan tangannya ke depan dan saat telapak tangannya dibuka api biru menyala segera menyambar ke arah mereka. Fea merasakan panas yang luar biasa.
"Argggghhh!!!!" jerit Fea.
Gelap, sekelilingnya gelap.
Belum hilang keterkejutannya, makhluk tersebut mendarat di depannya, dan dilihatnya seseorang melompat turun dari atas punggung makhluk tersebut. Sosok yang anggun namun memancarkan kharisma yang besar.
"Fea" didengarnya sosok tersebut memanggil namanya. Tak mampu menjawab, Fea hanya menatap kepada sosok tersebut yang berjalan mendekatinya.
"Fea, dengar, saat ini Gaia*[6], Mearcair, dunia ini membutuhkanmu, pergilah ke ... " belum selesai kalimat tersebut diucapkan tiba-tiba petir menggelegar dan langit menjadi gelap.
"Arrgh, tidak!!!" teriak sosok tersebut. Di belakang sosok tersebut tiba-tiba muncul seberkas sinar merah menyala, dan muncul sosok lain. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, sosok tersebut mengacungkan tangannya ke depan dan saat telapak tangannya dibuka api biru menyala segera menyambar ke arah mereka. Fea merasakan panas yang luar biasa.
"Argggghhh!!!!" jerit Fea.
Gelap, sekelilingnya gelap.
"Fea .. " didengarnya suara orang yang dikenalnya, suara ayahnya, dan tiba-tiba suasana menjadi terang.
"Fea .. , anakku, ada apa?"
Fea melihat muka cemas ayahnya, Terrwyn Eirtheira, yang bersimpuh di sampingnya.
"Tidak apa-apa ayah" hanya mimpi saja, sahut Fea.
Namun jawaban tersebut tidak membuat hati Terrwyn. Ini adalah malam kesekian kalinya semenjak llawn*[7] terakhir dia mendapati Fea bermimpi buruk.
"Mimpi sama lagi?" kembali Terrwyn bertanya.
"Iya ayah, entahlah, dan seperti yang lain-lain kembali terputus di bagian yang sama, aku tidak tahu kata terakhirnya, kemanakah dia memintaku pergi?"
Terrwyn hanya diam, air mukanya yang cemas nampak semakin gelap.
"Sudahlah, cobalah untuk tidur lagi." kata Terrwyn sambil mengusap dahi Fea anaknya.
"Ayah, aku ingin coba bertanya ke bibi Fionn besok"
Terrwyn tidak menjawab hanya mengangguk dan perlahan berjalan ke luar. Hatinya cemas dan gundah. Dikibaskannya tangannya, dan ruangan pun kembali gelap.
"Eilreen .. , engkaukah itu?" batin Terrwyn, perlahan digelengkannya kepalanya.
Dipandangnya dua bulan Mearcair, Glas Lleuad yang kebiruan, dan Caer Arian yang keperakan, tenang seolah berharap akan menemukan jawaban akan pertanyaannya di sana. Tak sadar dia menghela nafas. Di luar Loegaire*[8] kesayangannya melolong seolah merasakan kegalauan hati tuannya.
"Fea .. , anakku, ada apa?"
Fea melihat muka cemas ayahnya, Terrwyn Eirtheira, yang bersimpuh di sampingnya.
"Tidak apa-apa ayah" hanya mimpi saja, sahut Fea.
Namun jawaban tersebut tidak membuat hati Terrwyn. Ini adalah malam kesekian kalinya semenjak llawn*[7] terakhir dia mendapati Fea bermimpi buruk.
"Mimpi sama lagi?" kembali Terrwyn bertanya.
"Iya ayah, entahlah, dan seperti yang lain-lain kembali terputus di bagian yang sama, aku tidak tahu kata terakhirnya, kemanakah dia memintaku pergi?"
Terrwyn hanya diam, air mukanya yang cemas nampak semakin gelap.
"Sudahlah, cobalah untuk tidur lagi." kata Terrwyn sambil mengusap dahi Fea anaknya.
"Ayah, aku ingin coba bertanya ke bibi Fionn besok"
Terrwyn tidak menjawab hanya mengangguk dan perlahan berjalan ke luar. Hatinya cemas dan gundah. Dikibaskannya tangannya, dan ruangan pun kembali gelap.
"Eilreen .. , engkaukah itu?" batin Terrwyn, perlahan digelengkannya kepalanya.
Dipandangnya dua bulan Mearcair, Glas Lleuad yang kebiruan, dan Caer Arian yang keperakan, tenang seolah berharap akan menemukan jawaban akan pertanyaannya di sana. Tak sadar dia menghela nafas. Di luar Loegaire*[8] kesayangannya melolong seolah merasakan kegalauan hati tuannya.
***
Catatan:
1. Deau Paith, Pandea Cyfandir, Mearcair. Mearcair adalah planet utama tempat kisah ini berlangsung, atau seperti bumi kita. Cyfandir = benua. Pandea Cyfandir = Benua Pandea; Deau = selatan, Paith = prairie.
2. Matres adalah dewa langit dalam mitologi formorian.
3. Teigr = sejenis harimau di bumi
4. Gawain = sejenis elang
5. Griffin = sejenis rajawali
6. Gaia = sebutan lain untuk bumi di kisah ini, sebutan lain Mearcair
7. Llawn = purnama
8. Loegaire = semacam calf herder
1. Deau Paith, Pandea Cyfandir, Mearcair. Mearcair adalah planet utama tempat kisah ini berlangsung, atau seperti bumi kita. Cyfandir = benua. Pandea Cyfandir = Benua Pandea; Deau = selatan, Paith = prairie.
2. Matres adalah dewa langit dalam mitologi formorian.
3. Teigr = sejenis harimau di bumi
4. Gawain = sejenis elang
5. Griffin = sejenis rajawali
6. Gaia = sebutan lain untuk bumi di kisah ini, sebutan lain Mearcair
7. Llawn = purnama
8. Loegaire = semacam calf herder
Kamis, 21 Juli 2011
The Lore of Mearcair - Prolog
78 ribu Purnama Glas Leuad setelah Perang Terakhir Danu di Derianach
Glas Leuad terlihat begitu benderang di malam yang begitu tenang ini. Sepertinya dia bisa melihat adanya sebuah kehidupan di Glas Leuad. Tetapi lelaki muda*[2] itu tertawa sendiri; mentertawakan pikirannya bahwa ada kehidupan di Glas Leuad, padahal sepanjang pengetahuannya Glas Leuad itu sekedar bayangan Caer Arian, tidak pernah bisa dicapai dengan cara apapun.
Mannanân menoleh saat mendengar geraman lembut arth wen—seekor beruang putih kawan hidupnya, dia tertawa sambil menggelengkan kepalanya yang ditutupi geraian rambut yang seperti lidah api, “Ya, kau benar Athos, itu sekedar bayanganku saja yang didera rasa bosan. Mengawasi beberapa wilayah di Mearcair di bawah sana cukup membosankan.
Arth wen menggeram lagi dengan lebih keras dan Mannanân mengangkat alisnya pada kawan hidupnya itu, “Maaf, Athos Sultana, Perang Terakhir membuat suku Danu nyaris punah sedangkan aku di sini merasa bosan dengan kedamaian yang kurasakan selama ini”.
Athos Sultana mendesakkan kepalanya yang berbulu itu ke leher Mannanân sambil sedikit mendengkur dan anak muda itu mengelus kepala kawan hidupnya. Mereka berdua sudah berkali-kali ditugaskan turun ke Mearcair untuk memburu kaum Cysdogl yang secara misterius selalu muncul dan menyebabkan sedikit perselisihan diantara manusia*[3] oleh Morrigan, Sang Dewi. Diam-diam Mannanân agak sedikit merindukan pertempuran yang pernah dihadapinya dan 500 Blwydd atau 6500 purnama Glas Leuad terlalu panjang baginya, tetapi dia tidak membiarkan orang lain tahu isi hatinya, karena kalau ada yang tahu dan hal itu sampai di telinga Morrigan, Morrigan dan kawan hidupnya Goewin Sultana; corvo—burung gagak hitam akan menceritakan Perang Terakhir yang terjadi 6000 tahun yang lalu atau 78000 purnama Glas Leuad yang telah lewat. Morriganlah yang memimpin suku Danu yang tersisa menuju dan membuka gerbang Caer Arian. Dan menceritakan bagaimana kelahirannya di Caer Arian sangat disambut gembira oleh seisi Caer Arian, karena kelahirannya yang langka—sejak mereka bermigrasi ke Caer Arian, suku Danu kesulitan untuk meregenerasi yang tersisa, hanya ada sepuluh kelahiran setelah mereka mendiami surga ini.
Orang tua Mannanân d’Dwer ap Manthowy ap Caer Arian menyayangkannya telah melahirkannya sebagai ksatria, bukan sebagai pendeta, penyembuh, atau bahkan seorang seniman seperti ayahnya Manthowy sang penyair. Mannanân dilahirkan sebagai ksatria tinggi dan karena kelahirannya itulah, Morrigan mengambilnya dan mendidiknya sendiri. Morrigan menjadikannya sebagai ksatria Draíochta* [4]. Morrigan menempatkannya sebagai Caer Arian gwarchodwyr—penjaga Caer Arian
Mannanân menatap ke arah Glas Leuad yang semakin terlihat terang di sekitar langit yang pekat, dan di sampingnya Mearcair terlihat besar, jelas dan pulas dibawah sinar Glas Leuad dan Caer Arian, pria muda itu mengernyitkan keningnya saat perhatiannya teralihkan oleh panggilan mendesak Morrigan di kepalanya. Dia menjentikkan jarinya kepada Athos dan mereka berdua segera menghilang ditengah malam.
***
Morrigan berjalan mondar mandir, suasana hatinya begitu muram sehingga peri-peri rumah menghindari Morrigan atau akan terkena lemparan barang-barang yang berada di dekat Morrigan. Morrigan merutuk, menyumpah dan menggerutu sendirian, dia sudah memanggil sang gwarchodwyr —Mannanân.
Tiba-tiba suasana menjadi senyap. Morrigan nyaris terjungkal menyadari keadaan yang senyap dengan tiba-tiba. Para peri rumahnya berjatuhan di lantai kamarnya dalam keadaan yang memilukan. Seburuk apapun suasana hatinya, semabuk apapun dia setelah mabuk beoir *[5] ; dalam keadaan borracha *[6] pun, dia; Morrigan tidak pernah dan tidak akan pernah melakukan hal-hal yang mencelakai para peri dan makhluk lelembut ataupun suku kurcaci. Dia; Morrigan bertanggung jawab semua kehidupan yang ada di Caer Arian ini. Dia; Morrigan menyadari bahaya besar dan bahaya itu mengarah pada kelangsungan hidup seluruh suku Danu.
Morrigan memanggil Goewin tanpa suara; burung gagak hitam itu muncul dan langsung hinggap di bahunya. Morrigan menatap mata hitam bermanik-manik Goewin. Dia; Morrigan harus bertindak secara cepat. Atau semuanya terlambat, dan sang gwarchodwyr tidak akan bisa menjaga kelangsungan hidup suku Danu.
Morrigan memejamkan matanya dan berbisik pada Goewin, “Fy Sultana Goewin… * [7]
Goewin mengepakkan sayapnya sekali dan meninggalkan bahu Morrigan; dia berubah menjadi kabut hitam dan sesosok makhluk menjelma dengan wajah yang ditutupi topeng perak yang berpendar lembut, sebentuk tangan seperti cakar menangkup wajah Morrigan dan sepertinya Goewin tersenyum sedih, Morrigan menatap Goewin yang menjelma di hadapannya dengan tegar.
“Lakukan apa yang kupinta, Goewin…”
Morrigan menoleh cepat saat dia menyadari kamarnya telah dibuka dengan paksa dari luar, Morrigan bereaksi cepat dia menghunus pedang yang diraihnya dari tiang kamarnya, pedang yang langsung berubah menjadi kilatan energi yang ada di tangan Morrigan.
Morrigan menatap wanita yang berwajah muda dan seperti penduduk Caer Arian lainnya, eksotis. Emain dan kawan hidupnya Osgar Sultana; sarf lwyd-- ular abu-abu yang melingkar di lehernya terlihat kontras dengan kulitnya yang keemasan yang terbungkus jubah merah mudanya yang menutupi kepala dan tubuhnya. Emain sang Miach—seorang ban sagart--anggota dewan pendeta. Emain tersenyum dingin padanya, Morrigan melemparkan energinya; dia memusatkan kekuatannya untuk menyampaikan informasi terakhir ini pada Mannanân.
Sang Miach mengendalikan dirinya untuk tidak meluluhlantakkan seluruh rumah batu ini, dia hanya menghilangkan jejak-jejak keberadaan dirinya yang bisa dilacak oleh murid terkasih Morrigan, putra dari Manthowy. Yang terpenting; Sang Dewi sudah lenyap dari tahtanya. Tinggal bagaimana menggerakkan Comhairle na Sagart--dewan pendeta untuk mengikuti kata-katanya.
***
Mannanân memandangi ruangan yang sudah hancur kecuali bangunan utamanya yang tetap berdiri. Para peri rumah yang ada dalam perlindungan Morrigan pun tak ada yang tersisa keberadaannya. Mulutnya dipenuhi oleh rasa besi; kawan hidupnya menggeram, Mannanân menggaruk belakang telinga arth wen itu dan menegakkan tubuhnya.
Mannanân mengangkat wajahnya dan memandang keluar jendela, orang-orang mulai berdatangan mendengar keributan di tengah malam; pria muda itu mengacungkan telunjuknya keluar pada kawan hidupnya.
“Jaga di luar, Athos… aku belum menyelesaikan pemeriksaan di sini, dan orang-orang tua itu hanya akan mengganggu saja, tapi kalau Midhir dan mocaí aur-kera emasnya datang, suruh dia menemuiku segera”.
Arth wen tersebut segera melangkah keluar dengan langkah kaki-kaki yang bersuara kletik-kletik saat cakarnya menyentuh lantai kayu kediaman Morrigan yang sudah gosong dan kotor. Athos menggeram berat kepada orang-orang yang mulai berkumpul di luar, memperingatkan mereka untuk tidak melangkah lebih dekat lagi.
Penonton mulai saling berbisik di antara mereka tetapi tidak berani melangkah lebih dekat ke pagar kayu yang membatasi kebun yang sebelumnya merupakan kebun herbal untuk tanaman obat yang dipelihara oleh Morrigan untuk menghabiskan waktu, yang kini rusak.
Comhairle na Sagart--dewan pendeta yang juga datang berkumpul di halaman depan Morrigan dengan wajah-wajah serius yang penuh dengan tanda keberatan terhadap larangan yang disampaikan sultana milik gwarchodwyr Caer Arian, tetapi tidak berani membantahnya.
“Anak ingusan itu benar-benar sudah keterlaluan!” bisik seorang Sagart—pendeta
“Untuk apa dia menyuruh arth wen sultana itu menghalangi kita masuk? Kita harus tahu apa yang terjadi. Apa yang terjadi dengan Morrigan?!”
“Kita harus masuk!” gerutu Sagart yang lainnya.
Athos menggeram berat dan panjang, bulu-bulu putihnya yang tebal tegak berdiri dan matanya bersinar keperakan; memberi peringatan yang lebih keras dan tegas. Cyngor – dewan mundur lagi dengan tertib dan memandang mata Athos yang bersinar itu dengan takjub.
“Gwarchodwyr memiliki alasan meminta Athos Sultana untuk menjaga agar tempat ini tidak seperti pasar yang ada di bawah* [8] sana…” kata seorang laki-laki yang baru muncul dengan sultananya yang keemasan menggelayut dengan ekornya di tangannya.
Seorang Sagart memberi jalan padanya, dan lelaki itu tersenyum hangat sambil terus berjalan, seolah-olah dia melihat jalan di hadapannya terbuka, padahal, jelas-jelas matanya yang sebiru Glas Leuad tidak bisa melihat apa pun sejak dia dilahirkan, tetapi Midhir y Glas ap Carraigh memang seorang Draiochta—Prajurit yang sangat disegani.
“Kenapa kau membiarkan dia menjadi sinsearach*[9]-mu; padahal dia lebih muda 1000 blwydd darimu! Dia tak lebih anak manja karena Bandia* [10] menyukainya!”
Midhir menoleh pada suara Emain yang berbicara tak jauh darinya dan dia sedikit tertegun mendengar suara Sang Miach itu, mocaí aur -nya berdiri dengan tangan dan kakinya; seolah siap menyergap dengan pandangan nanar pada wanita itu, Midhir menyeringai miring pada Emain setelah beberapa saat terlihat seperti mencari-cari sumber suaranya.
“Sagart Emain y Miach, kata Midhir dengan suara lembut,”Fy Ridire* [11], bukan sekedar Draiochta ataupun kesayangan Bandia; Ridire seorang gwarchodwyr. Saya bersyukur karena beliaulah sinsearach kami”.
Emain mundur selangkah, dia nyaris melakukan kesalahan. Draiochta memang bukan sekedar gwarcheidwad—pasukan penjaga biasa, mereka merupakan orang-orang tempur yang menguasai sihir, taktik, peperangan dan segala kesenian yang harus dimiliki. Setelah lebih dari 5000 blwydd, hanya Morrigan dan beberapa gelintir orang saja yang bisa disebut prajurit tua, yang memilih menjadi Athro dan mereka sangat setia dan solid. Emain mengangguk dengan hormat, mengakui kesalahannya, Midhir tersenyum miring lalu beranjak pergi.
“Ridire sudah menunggu, kami akan memberitahukan pada Comhalta* [12] sekalian apa yang terjadi setelah kami mengetahui apa yang terjadi”.
Midhir memasuki rumah batu tersebut dan, dia bisa merasakan dan mendapat gambaran yang jelas dalam benaknya. Kepalanya terangkat saat didengarnya Mannanân mendekat.
“Buruk sekali, huh?” gumam Midhir
“Sangat. Morrigan tidak diketahui keberadaannya dan aku tidak bisa merasakannya sama sekali, anehnya sultana Morrigan; Goewin masih kurasakan sangat lemah” jawab Mannanân sambil mengambil sebuah batu hitam dari lantai kayu yang sudah gosong.
“Pelakunya?” Midhir berjalan mondar-mandir di ruangan yang rusak parah itu sambil berusaha menangkap gelombang yang tersisa ke dalam benaknya.
“Pintar. Membuatku ragu kalau pelakunya suku Danu. Orang-orang tua itu tidak seperti Draiochta. Sedangkan Draiochta sendiri tidak mungkin melakukan hal ini”, mata Mannanân berubah menjadi merah dadu, “Tak akan kuampuni siapapun dalam Draiochta yang melakukan hal ini pada Morrigan ataupun makhluk yang mencari tearmann* [13] di rumah batu ini”
Tiba-tiba Midhir berhenti mondar-mandir dan dia menoleh pada Mannanân, lelaki yang lebih muda itu mengangkat sebelah alisnya bertanya tanpa mengatakan apa-apa.
“Morrigan belum mati. Aku menangkap gelombangnya; lebih tepatnya gelombang Goewin”.
Mannanân menunggu penjelasan selanjutnya, sahabatnya itu tampak terdiam lama, begitu juga mocaí aur -nya.
“Di bawah, dan tidak aktif… ada apa dengan Goewin?” gumam Midhir, sementara Mannanân tetap terdiam sambil merenungi batu hitam di tangannya.
“Ridire… apakah pikiranmu sama dengan apa yang sedang kupikirkan?” Tanya Midhir tanpa menoleh pada pimpinannya.
“Mungkin, dan bila memang pikiranmu sejalan dengan apa yang kupikirkan, maka hal ini menjadi sangat berbahaya. Berbahaya untuk kelangsungan Danu; tetapi kita harus bisa memecahkan persoalan ini.
Mannanân menatap batu hitam yang masih dipegangnya, “aku merasakan jejak Cysdogl di ruangan ini, dan mengapa bisa sampai di sini…” Mannanân terdiam dan dia melemparkan batu hitam itu kepada Midhir yang menangkapnya dengan sigap, “Kita perlu mengadakan pertemuan dengan Comhairle na Athro, tapi sebelum itu, kau bisa menenangkan orang-orang tua di luar sana”.
Midhir menoleh dan menyeringai, “Bukankah kau yang seharusnya melakukan tugasmu sebagai sinsereach kami secara Morrigan menghilang dari kediamannya? Mereka mengharapkanmu bicara dan memberi kepastian”.
Mannanân mendengus dan mengangguk kaku, “Baik. Aku akan menemui mereka dan kau; boleh simpan seringaianmu itu untuk dirimu sendiri. Siapkan lima Draiochta, kalau aku bisa membuka gerbang penghubung Caer Arian ke Mearcair; kita akan segera berangkat.
“Aku akan memberitahu Wijnruitt untuk bersiap-siap…” Jawab Midhir sambil beranjak pergi, tetapi dia berhenti saat dirasakannya Mannanân terdiam di tempatnya berdiri, “Ridire?”
“Wijnruitt sebaiknya tinggal di Arian; aku memerlukannya untuk melakukan sesuatu untukku di sini. Dan semua Draiochta yang tidak bertugas kuharapkan kehadirannya di Tara—Athro Beli* [14] akan menunggu kita di sana.
Midhir mengangguk dan segera pergi mengerjakan apa yang diminta oleh sinsereach-nya. Membuka jalan ke Mearcair bukan persoalan mudah; selama ini Morrigan yang menjaganya dan membukanya, dan dia ingat legenda 6000 blwydd lalu; Legenda Migrasi saat Morrigan harus kehilangan saudara-saudaranya dalam migrasi orang Danu ke Caer Arian. Tetapi kalau Ridire mengatakan bila dia bisa membuka gerbang penghubung ke Mearcair; itu artinya mereka akan segera berangkat ke Mearcair. Dan ucapan Mannanân mengenai keberadaan Cysdogl tadi juga membuatnya waspada, karena bila ada makhluk itu muncul di Caer Arian...
Midhir menghentikan pemikirannya sebelum dia melangkah lebih jauh. Baik dia dan Mannanân mengerti bahayanya bila memikirkannya lebih, karena kemungkinan makhluk itu masih ada di sekitar mereka. Midhir merasakan telinganya dipegang oleh sultananya, dia meraih tangan sultananya yang hitam dan kurus yang lengannya dipenuhi oleh bulu-bulu emas.
“Kaupun merasakan hal yang sama, Aidan? Mungkin Ridire akan mengetahui keanehan tadi kalau dia bertemu dengan orang itu. Tapi kelihatannya kita harus menunggu sampai pertemuan nanti di Tara, tapi Ridire harus mengetahui hal ini”.
***
Catatan:
[1] Blwydd= tahun kami, penanda waktu yang dimulai setelah Perang Terakhir Derianach. 1 blwydd = 13 bulan purnama Glas Leuad[2] Penyebutan muda bagi suku Danu adalah relatif.
[3] Manusia, penyebutan suku Danu untuk makhluk yang tinggal di Mearcair : terdiri dari ras Formorian dan Domnan.
[4] Draiochta = ksatria tertinggi suku Danu
[5] bir
[6] mabuk berat
[7] Goewin Sultana milikku
[8] bawah yang dimaksud adalah dunia Mearcair
[9] pimpinan
[10] sebutan untuk Morrigan
[11] sebutan hormat para prajurit Caer Arian untuk Mannanân
[12] anggota dewan
[13] Sanctuary
[14] Guru Beli
Langganan:
Postingan (Atom)